Sunday, August 29, 2010

Sebuah Kesaksian

The first post is a copy of my e-mail to the Tiberias Church telling about the greatness of Jesus Christ in my life.

Saya bersyukur kepada Tuhan karena kasih karunia-Nya yang besar yang melingkupi saya dari waktu ke waktu bahkan sedari saya hadir di dunia. Dalam kesempatan ini, saya rindu untuk bersaksi tentang kehebatan-Nya dalam hidup saya, terutama ditujukan bagi kaum remaja. Saya sendiri sebenarnya masih merupakan salah satu anggota dari kaum muda itu sendiri, di mana saya baru saja menginjak usia 18 tahun bulan lalu. Tapi puji Tuhan, meski baru 18 tahun menapaki hidup ini, saya bangga dan berani memegahkan diri di dalam Dia yang telah mengangkat dan menjadikan saya berhasil dalam segala bidang.

Saya ingin bersaksi bagaimana Dia telah memimpin saya dalam tiap langkah hidup saya, terutama dalam tiap bidang yang saya tekuni baik secara akademis maupun luar akademis.

Saya menghabiskan 6 tahun masa sekolah dasar saya di sebuah sekolah kecil di daerah dekat tempat kediaman. Tidak banyak siswa yang bersekolah di tempat itu, sekitar 33 orang semasa angkatan saya. Tapi puji Tuhan, meski dididik di sekolah yang bisa dikatakan cukup kecil, saya berhasil melewati serangkaian tes sehingga saya dapat diterima di salah satu sekolah menengah pertama bergengsi di bilangan Jakarta Pusat. Di sana saya ditempa, saya dipaksa untuk menjajaki suatu kehidupan sekolah yang lebih luas, dengan teman-teman yang berasal dari latar belakang yang lebih beragam.
Kembali lagi saya bersyukur karena saya diberi oleh-Nya begitu banyak talenta. Salah satunya adalah dalam hal berbicara dan meyakinkan orang. Ketika menjadi murid SMP, saya berhasil menjadi juara umum ke-2 dan bahkan berhasil membawa nama baik sekolah di berbagai kejuaraan pidato, baik dalam bahasa inggris maupun indonesia. Sayapun menjadi kesayangan banyak guru. Sungguh merupakan suatu hal yang mustahil bagi seseorang yang datang dari sekolah yang bisa dikatakan tidak memiliki prestise yang tinggi namun justru Tuhan yang mengangkat saya naik di tempat yang lebih besar dengan kompetisi yang lebih ketat.

Kemudian, setelah 3 tahun mengenyam pendidikan di bangku menengah pertama, saya kemudian mendaftarkan diri melalui program prestasi di sekolah yang bahkan jauh lebih besar dengan tingkat kompetisi yang jauh lebih ketat. Bahkan bukan suatu hal yang dibesar-besarkan jika sekolah di mana saya mengenyam pendidikan menengah atas ini merupakan sekolah terbaik di Indonesia, hingga bahkan di kawasan Asia Tenggara sekalipun. Sungguh suatu hal yang luar biasa bagi saya saat mengetahui saya diterima sebagai salah satu murid berprestasi di SMAK 1 BPK PENABUR Jakarta. Hebat sungguh karya Tuhan mengingat ribuan siswa mendaftarkan diri dan hanya sekitar 300 siswa saja yang diterima dan ternyata saya merupakan salah satu di antaranya! Bukan hanya itu saja, saya juga mendapat keringanan biaya dan lain sebagainya mengingat prestasi yang telah saya peroleh sedari tingkat sekolah dasar hingga menengah pertama. Sungguh ajaib kasih Tuhan!

Namun, dalam hal ini saya tidak memungkiri bahwa saat itu saya merasa gelisah. Bagaimana saya, seorang Astrid, dapat berjuang di tengah-tengah kumpulan siswa yang luar biasa ini? Ketika SMP dahulu, angkatan kami hanya terdiri dari 90 orang, namun kini saya dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa saya harus menghadapi ratusan siswa luar biasa untuk menjadi yang terbaik. Saya juga manusia, saya tidak dapat memungkiri diri bahwa saya sempat merasakan kegentaran dalam hati saat itu. Saya sempat tergoda untuk berpikir bahwa menjadi yang terbaik tidaklah penting, yang penting dapat naik kelas di setiap tingkat.

Namun, saya bersyukur kepada Tuhan bahwa saya diberinya iman dan pengharapan serta keluarga yang selalu mendukung saya. Saya selalu menjalani hidup ini dengan iman, saya selalu mempunyai keinginan untuk menjadi yang terbaik, saya teringat akan Daniel di mana ia selalu diberkati berhasil dalam segala bidangnya dan bahkan menjadi dipercaya sebagai salah satu petinggi negara mulai dari pemerintahan Raja Nebukadnezar hingga Koresh, sang orang Persia. Peristiwa ini tidak akan pernah saya lupakan ketika saya mengikuti upacara pertama kali di SMAK 1 di mana saya melihat 3 orang siswa senior dipanggil ke depan untuk menerima piala dan tropi juara. Saat itu saya berdoa dalam hati saya bahwa ya, suatu hari saya akan dipanggil ke depan oleh para guru dan berdiri di sana, memegang tropi dan piala juara. Saya akan menjadi juara di SMAK 1. Saya akan menjadi naik dan bukan turun, menjadi kepala dan bukan ekor.

Tapi memang saya harus akui bahwa perjalanan selama 3 tahun di sekolah tersebut tidaklah mudah. Saya menemui banyak rintangan, mulai dari sulitnya bahan-bahan pelajaran, banyaknya ulangan, hingga susahnya membagi waktu antara rekreasi, kursus, dan tugas sekolah. Bukan suatu hal yang langka bagi saya untuk menangis kala itu. Menangis karena melihat begitu banyak pelajaran yang harus saya kuasai untuk menghadapi ulangan esok hari, menangis karena menyadari bahwa begitu sedikit waktu yang tersisa dan begitu banyak hal yang harus dikerjakan. Namun, saat saya menangis, saya juga berdoa. Dan saya tahu tangisan saya ditampung di kirbat-Nya (Mazmur 56:9), saya tahu bahwa di saat saya menangis dan minta pertolongan-Nya, Dia melihat duka saya dan menggantikannya dengan sukacita dan kemenangan.

Dan tepat itulah yang Tuhan Yesus lakukan bagi hidup saya. Dia tidak hanya mati di kayu salib, bangkit pada hari yang ke-3 dan menebus manusia dari dosa, namun Dia juga memberi saya karunia dan kemenangan dalam tiap langkah hidup saya. Tiga tahun saya lewati di SMAK 1 dengan penuh kemenangan dan hadirat Tuhan. Saya selalu menjadi juara kelas bahkan berakhir pada acara kelulusan sekolah di mana saya dipanggil ke atas panggung, di depan ratusan pasang mata, berjabat tangan dengan wakil pemerintah, ketua yayasan, dan kepala sekolah karena saya berhasil meraih juara 1 umum! Bahkan bukan hanya itu saja, saya juga diberi Tuhan prestasi luar biasa di luar akademis, yaitu berhasil memenangkan berbagai lomba debat dan pidato dalam bahasa inggris serta dipercayai untuk menjabat sebagai presiden klub debat bahasa inggris SMAK 1, bahkan puncaknya berhasil mewakili Indonesia meraih juara ke-3 menulis esai bahasa inggris tentang perdamaian dunia yang diselenggarakan institusi EF London yang diikuti 33 negara di dunia. Puji Tuhan, berkat kasih-Nya, esai saya yang mewakili Indonesia berhasil dipilih menjadi juara 3 setelah Rusia dan Swiss. Tidak hanya dalam prestasi saya diberkati tapi juga saya dikaruniai banyak teman dan bahkan dikenal oleh para guru. Sungguh, jika menggunakan logika manusia, hal ini merupakan hal yang mustahil. Siapakah saya, seorang anak perempuan dari sekolah kecil namun diangkat Tuhan menjadi juara, bukan hanya dalam satu bidang, tapi dalam segala hal yang saya tekuni.

Tetapi kesaksian saya belum berakhir sampai di sini, saudara. Ternyata Tuhan Yesus melihat bahwa berkat yang saya peroleh ini masih belum cukup banyak, ternyata Dia ingin memberkati saya lebih banyak lagi, lebih dahsyat lagi karena Dia memberi saya 1 tempat duduk di fakultas hukum Universitas Gajah Mada (UGM) melalui jalur murid berprestasi! Jika boleh jujur, hal ini tentu merupakan suatu hal yang mustahil dan tidak pernah terbayangkan oleh saya sebelumnya mengingat secara manusia, saya merupakan seseorang yang bisa dikatakan kaum minoritas, baik secara gender, ras, bahkan kepercayaan. Tentu sudah merupakan hal yang biasa bagi rakyat Indonesia melihat kaum pria yang berprofesi sebagai pengacara atau ahli hukum, namun wanita? Memang saya menyadari bahwa negara kita telah memasuki era emansipasi di mana wanita kini telah menduduki status sosial yang sama dengan pria mengingat kitapun pernah memiliki seorang pemimpin negara wanita beberapa tahun silam namun perlu disadari juga bahwa masih merupakan suatu hal yang langka bagi wanita untuk berkiprah di bidang hukum dan politik di negara kita.

Sementara itu saya juga merupakan warga negara Indonesia keturunan Tionghoa. Memang sekali lagi, saya sadar bahwa negara kita sudah tidak mengenal diskriminasi akan suku bangsa dan ras apalagi jika dikaitkan dengan penghapusan PP tentang pelarangan perayaan hari-hari besar kaum Tionghoa di Indonesia. Negara kita secara terang-terangan telah mengakui bahwa tiap warga negara, terlepas dari suku dan rasnya, merupakan warga yang diakui hak dan kewajibannya oleh negara. Namun dalam hal ini kita juga tidak bisa memungkiri bahwa masih ada benih-benih stereotip di masyarakat menyangkut perbedaan dalam kesukubangsaan. Namun, luar biasa kasih Tuhan, saya yang merupakan seseorang yang berkulit putih dan bermata sipit berhasil diterima di UGM yang notabene memiliki mayoritas siswa asli Indonesia. Luar biasa kasih Tuhan! Ketika Dia sudah membuka pintu, tidak ada yang dapat menutupnya!

Kemudian, dalam hal ini saya juga dihadapkan akan kenyataan bahwa saya merupakan kaum nasrani, yang percaya bahwa Kristus adalah juruselamat. Dan sungguh luar biasa kasih Tuhan di mana saya, yang merupakan seorang wanita, asli keturunan Tionghoa, pemeluk agama nasrani dapat diterima di fakultas hukum di salah satu universitas bergengsi di Indonesia. Menurut manusia tentu saja hal ini tidak mungkin, karena jika dilihat dari sudut pandang manapun, saya merupakan kaum minoritas di negeri ini, tapi kembali seperti kata Daud sebelum mengalahkan Goliat, bahwa Dia berperang dengan kuasa Tuhan (1Samuel 17:45). Dan sayapun dalam hal ini berjuang dengan kuasa Tuhan. Tuhan yang membukakan pintu kemenangan bagi saya. Bukan karena kehebatan, ketekunan, dan kepintaran saya, tapi karena kasih karunia Tuhan.

Sambil saya menulis kesaksian ini, saya teringat akan tokoh Daniel dan Yusuf. Daniel yang notabene merupakan kaum budak di Negeri Babel tetapi diangkat Tuhan menjadi petinggi negeri itu. Yusuf yang juga merupakan seorang budak bahkan narapidana tetapi diangkat Tuhan menjadi orang tertinggi ke-2 yang berkuasa di Mesir setelah Firaun sendiri. Saya boleh saja menjadi kaum minoritas namun bukan berarti hal tersebut menghentikan langkah Tuhan untuk mengangkat saya. Dia tidak dibatasi oleh gender, tidak dibatasi oleh ras dan suku bangsa, tidak dibatasi oleh agama dan kepercayaan, juga tidak dibatasi oleh usia. Tuhan Yesus tidak terbatas. Sungguh ajaib kuasa dan kemuliaan-Nya. Selama 18 tahun ini, saya diberkati terus naik, dari sekolah yang kecil, menengah, besar, hingga yang luar biasa. Saya sadar dan percaya bahwa pasti ada rencana Tuhan di balik hal ini semua. Bagaimana saya terus dituntun dalam tiap langkah saya meraih kemenangan. Dan dalam hal ini saya juga percaya bahwa saat saya di UGM, saya akan bertumbuh lebih hebat dan kuat di dalam-Nya (1Yohanes 2:14) dan tentu diberkati luar biasa oleh-Nya. Ya, saya punya kepercayaan teguh akan hal itu.

Saya juga dalam hal ini bersyukur dapat dikenalkan akan kuasa perjamuan kudus dan minyak urapan melalui Gereja Tiberias. Melalui bimbingan serta doa para hamba Tuhan terutama dari Pendeta Josua Tumakaka di Gereja Tiberias, saya belajar akan kuasa di balik perjamuan kudus dan minyak urapan. Oleh sebab itu setiap hari, saya selalu mengangkat perjamuan kudus dan saya melihat begitu hebatnya kasih Yesus dalam hidup saya. Saat saya menerima tubuh dan darah-Nya juga menerima minyak urapan, saya diberkati luar biasa. Saya selalu dibawanya naik dan bukan turun, kepala dan bukan ekor (Ulangan 28:13). Sungguh ajaib dan luar biasa kasih Tuhan!

Sekian kesaksian saya pada kesempatan ini. Saya berharap dan percaya bahwa beragam kata dan kalimat yang saya telah tulis ini dapat menjadi suatu kesaksian yang membangun kaum muda serta sebagai dupa yang harum bagi kemuliaan Yesus Kristus, Tuhan kita.

Hello!

Again, hello! Thank you for coming to my blog!

www.astridbelieves.blogspot.com is actually my second blog in which I will write posts related to life and Christianity, very much in contrast with its big sister, www.astridthinks.blogspot.com, which focuses on my love of fashion, photography, and art in general.

Enjoy! And God bless you!
:D